Oleh: Tukang Kebun | 24 Februari 2010

Mental Wirausaha

Pendekatan Konseling dalam Pembelajaran Kewirausahaan

Oleh Dadi Margana

 

 

Dunia pendidikan di negara kita pada saat ini cenderung lebih berorientasi kepada mencetak lulusan untuk bekerja di Industri. Konsep demikian mungkin relevansi ketika eksistensi dan pertumbuhan sektor industri di negara kita masih semarak seperti di awal dekade 90-an. Kenyataan yang terjadi seiring dengan terjadinya Krisis Moneter yang mendera, dimana imbasnya sampai detik ini masih dapat kita rasakan. Belum terlihat tanda-tanda dunia industri nasional untuk dapat bangun dan bergairah kembali. Implikasinya ketika dunia industri sudah tidak bisa menyerap tamatan sekolah, menyebabkan semakin bertumpuknya jumlah penganggur.

Di tahun-tahun awal paska reformasi, Pemerintah membuat kebijakan untuk mengajarkan Kewirausahan di sekolah-sekolah kejuruan, sebagai mata pelajaran yang utuh berdiri sendiri. Salah satu ekspektasi diajarkannya Mata Pelajaran Kewirausahaan di SMK-SMK adalah menanamkan (internalisasi) jiwa wirausaha dengan menumbuhkan kemampuan mandiri di kalangan siswa / siswinya.

Mempersiapkan tamatan SMK untuk mampu berdikari menciptakan lapangan pekerjaan yang didasari oleh sikap mandiri, kreatif dan inovatif, bermuara kepada banyaknya kesulitan yang dirasakan oleh guru kewirausahaan. Antusiasme siswa-siswi di beberapa SMK terhadap mata pelajaran kewirausahaan yang relatif baru dan kurang familiar sering penulis rasakan, sepertinya hampir ada kemiripan, Mereka kurang tertarik dengan mata pelajaran ini. Kecenderungan yang terjadi di SMK dimana pelajaran umum yang tidak di Ujian Nasionalkan dianggap kurang penting. Mata pelajaran demikian, dianggap mata pelajaran pelengkap setelah mata pelajaran produktif tentunya dan mata pelajaran umum yang di UN- kan tadi.

Kendala yang dihadapi

Kendala berikutnya yang dihadapi oleh guru kewirausahaan adalah siswa-siswi terpengaruh oleh terbentuknya opini di kalangan masyarakat yang menganggap bahwa menjadi PNS atau Aparatur Pemerintah merupakan target tujuan hidup yang lebih menjanjikan di bandingkan menjadi wirausaha, belum lagi adanya faham budaya  feodal warisan kolonialisme jaman dahulu yang menganggap bahwa menjadi wirausahawan lebih banyak resiko yang mesti ditanggung, beda dengan menjadi seorang karyawan atau buruh yang hanya memikirkan pekerjaan.

Kendala lainnya yang datang dari dalam diri siswa sendiri  dimana adanya masalah psykologis yang berkembang di kalangan remaja. Belum stabilnya emosi dan kematangan berpikir menyebabkan mereka cenderung masih gamang dalam menentukan jalan hidup yang kelak mereka jadikan tumpuan hidup untuk masa depan mereka.

Solusi atas permasalahan tersebut sekaligus untuk menjawab penerapan pembelajaran yang selaras dengan KTSP, dapat dicoba dengan menerapkan pembelajaran dimana observasi, wawancara dengan seorang wirausahawan, pengamatan dan praktek di lapangan porsinya diperbanyak dibandingkan dengan penyampaian teori belaka. Pembelajaran demikian diharapkan lebih efektif tepat kepada sasaran yang ingin dicapai dan bisa menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan. Pembelajaran tidak lagi dianggap hanya sebagai beban hapalan semata.

Kewirausahaan sebagai mata pelajaran yang utuh  berdiri sendiri, merupakan mata pelajaran yang relatif baru diajarkan di SMK-SMK. Muatan materi pelajaran yang biasa ditemukan di dalam kurikulum standar nasional, termasuk dalam kurikulum terbaru apabila ditelaah lebih mendalam ada kesan masih mencari format baku yang memang selaras untuk diterapkan. Kenyataan ini terlihat apabila kita membandingkan antara GBPP Kewirausahaan SMK Edisi 1999 dengan yang terdapat didalam KBK maupun KTSP, di sana akan terlihat mulai dari Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi yang selalu berubah-rubah.

Pendekatan Konseling

Berdasarkan pengalaman yang penulis dapatkan dari pembelajaran kewirausahaan di SMK-SMK yang telah dilaksanakan, sudah seharusnya apabila pendekatan  Konseling diimplementasikan untuk dicoba dalam ruang lingkup pembelajaran kewirausahaan di SMK-SMK.

Pendekatan Konseling yang merupakan hubungan interpersonal antara dua individu akan mampu mendeteksi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa-siswi dalam belajar kewirausahaan, termasuk meluruskan paradigma dan cara pandang negatif terhadap eksistensi pelaku usaha ditengah-tengah kehidupan masyarakat.

Seorang guru kewirausahan idealnya harus mampu menumbuh kembangkan potensi yang ada dalam diri siswa sehingga memiliki kepribadian yang mandiri, percaya diri, kreatif dan berorientasi kepada masa depan.

Kadang-kadang seorang siswa setelah menamatkan sekolahnya, mereka akan dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang dianggap sebagai suatu pilihan yang dilematis antara bekerja pada industri, meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi atau menjadi pekerja mandiri. Dalam situasi demikian perlu adanya seorang konselor yang mampu mendiagnosa pilihan tadi.

Ditengah-tengah maraknya angka pengangguran dalam negeri dan realita sulitnya mencari pekerjaan. Guru kewirausahaan harus bisa menjadi seorang konselor untuk meyakinkan agar siswa memiliki sense untuk berwirausaha. Perkembangan ekonomi global dunia yang ditandai dengan diratifikasinya persetujuan pasar bebas antar negara di kawasan regional maupun dunia akan menyebabkan persaingan diantara pencari kerja menjadi lebih kompetitif. Fenomena ini sekaligus merupakan alternatif  yang terbuka lebar bagi pelaku usaha menengah ke bawah untuk lebih intens menggeluti wirausaha.

Kewirausahaan diajarkan di SMK-SMK bukan hanya untuk dihapal secara teori tapi diajarkan dengan maksud agar peserta didik memiliki sikap dan mental wirausaha. Dengan pendekatan konseling, mudah-mudahan tujuan diajarkannya pelajaran kewirausahaan dapat dicapai sesuai dengan target yang diharapkan dan bisa lebih diterima oleh siswa-siswi dalam rangka mempersiapkan mereka di kemudian hari, untuk bisa hidup mandiri berjiwa kreatif dan inovatif dalam menyongsong era perdagangan dunia baru.  Semoga !

Laman: 1 2


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori