Oleh: Tukang Kebun | 16 Maret 2010

Kritik Bagi Guru

Makna Sebuah Kritikan

Oleh

Bambang Prasetio, Dipl.Hot, S.Pd

 

Pembelajaran yang dilangsungkan oleh seorang guru dengan muridnya di kelas, merupakan suatu keharusan disampaikan dengan suasana demokratis, diliputi suasana menggembirakan, jauh dari sikap terpaksa dan terhindar dari intimidasi, apapun itu bentuknya !

Dalam konsep pembelajaran student based centered, siswa didorong untuk mendominasi pembelajaran. Di kelas Guru hanya berperan sebagai fasilitator.

Terlepas dari itu semua, dalam melaksanakan tugas sebagai seorang pendidik, guru akan sering berhadapan dengan sejumlah permasalahan baik dengan murid maupun dengan individu juga kelompok yang ada di dalam komunitas tempat guru tersebut mengajar.

Guru bukanlah seorang malaikat, meskipun sudah berusaha mempersiapkan diri sebaik-baiknya, namun sebagai suatu hal yang manusiawi, guru pernah juga berbuat salah, termasuk pada saat penyampaian materi bahan ajar.

Ketika pembelajaran di kelas tengah berlangsung, adakalanya kesalahan yang diperbuat oleh seorang guru, secara sadar ataupun tanpa disadari lolos dari pengamatan murid. Apabila tidak ada evaluasi setelah pembelajaran ! tentu kesalahan tadi akan tertanam di benak murid dan dianggap sebagai suatu pembenaran

Sebaliknya apabila kesalahan tadi langsung mendapat respons dari murid, kemudian timbul feed back (umpan balik) berupa kritik terhadap guru, itu merupakan suatu efek yang baik bagi seorang guru. Dari kritik tadi akan muncul inisiatif berupa instrospeksi berupa perbaikan dari kesalahan yang telah diperbuat.

Kritikan, Sanggahan atau lebih jauhnya sebuah bentuk protes ketika pembelajaran tengah berlangsung, merupakan masukan berharga bagi seorang guru. Guru dituntut untuk selalu bijak dan menyikapi semuanya dengan obyektif. Apabila memang terdapat kesalahan dengan elegan mengakuinya. Kemudian setelah itu Sharing dengan murid yang ada di kelas tadi, mencoba meluruskan kesalahan yang telah terjadi ! tentunya guru juga harus memberikan sedikit argumen yang dimengerti oleh murid.

Penulis yakin sikap elegan mengakui kesalahan tadi, kemudian kesalahan itu tidak terus diulang-ulang, tidak akan sampai menjatuhkan kewibawaan seorang guru di hadapan muridnya.

Guru dituntut untuk selalu benar dan ideal dalam segala aspek dihadapan muridnya, namun sebagai manusia biasa, guru juga bisa khilaf dan suatu kewajaran apabila pernah melakukan kekeliruan. Kebiasaan mengakui kesalahan yang telah diperbuat, perlu ditumbuh- kembangkan di negeri ini. Beberapa waktu lalu, media massa dan media audio visual nasional memberitakan tentang kasus Prita Mulyasari. Kalau dirunut, sebetulnya merupakan sebuah hal yang biasa, apabila seorang pasien menyampaikan kritikan atau keluhan atas fasilitas pelayanan yang didapat.

Sewajarnya kalau keluhan itu disikapi dengan hati lapang, menelisik diri kemudian instropeksi. Kalau dalam kesimpulan di kemudian hari merasa tidak bersalah tentu jauh lebih bijak diselesaikan dengan pendekatan persuasif berupa sanggahan, tanpa mesti bersikap reaktif berlebihan, yang bisa menimbulkan adanya kurang simpatik dari publik.

Keluhan dan sanggahan atau bentuk protes dari seorang murid ketika pembelajaran tengah berlangsung juga merupakan hal yang biasa, janganlah dihadapi dengan sikap reaktif yang berlebihan. Bukan jamannya lagi guru berlaku demikian !

Perlu diingat apabila guru tidak berusaha untuk instropeksi dalam hal ini, kadang-kadang kesalahan dalam penyampaian materi bahan ajar tidak akan di sanggah oleh murid, meskipun murid bersangkutan mengetahui apa yang diterangkan oleh gurunya adalah suatu hal yang keliru. Mengapa hal ini terjadi ? penyebabnya murid enggan menyanggah kesalahan guru tadi karena takut dimarahi oleh gurunya. Bila ini terjadi merupakan suatu kerugian dalam proses pembelajaran.

Dalam suasana pembelajaran yang demokratis, murid tidak akan pernah dihinggapi perasaan takut. Guru harus menganggap kritikan atau sanggahan dari seorang murid, sebagai suatu bentuk keberhasilan guru dalam merealisasikan pembelajaran yang menyenangkan.

Kesalahan yang disikapi dengan elegan oleh seorang guru, berimplikasi kepada tertanamnya kehati-hatian ketika mengajar dan berusaha mempersiapkan bahan ajar sebaik-baiknya. Guru akan selalu berusaha meningkatkan kemampuan kompetensi mengajar yang dimilikinya, sebagai konsekuensi agar terhindar dari kritikan atau sanggahan dari muridnya.

Bagaimanapun juga, kritikan dari seorang murid merupakan sinyal adanya perhatian dan antusiasme murid terhadap pembelajaran yang tengah dilangsungkan !

***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori