Oleh: Tukang Kebun | 16 Maret 2010

Pendidikan Berbasis Budaya

PENDIDIKAN BERBASIS BUDAYA

Oleh

DRS. SUNARTA SUHARYANA PAWAKA

 


 

 

Maraknya budaya kekerasan, aksi tawuran antar pelajar, suporter sepak bola yang berbuat onar menjadi  suatu fenomena yang mudah ditemukan di kalangan masyarakat negeri tercinta ini

Rangkaian kejadian anarkis yang tercatat dalam sejarah kelam perjalanan bangsa ini, sudah lama menjadi keprihatinan berbagai elemen lapisan masyarakat. Mulai dari praktisi pendidikan, akademisi, kalangan wakil rakyat, pemuka masyarakat turut angkat bicara mengenai masalah ini.

Negeri yang terletak di zamrud katulistiwa ini, sudah sejak dahulu kala dikenal sebagai negeri eksotik yang terkenal akan keindahan alam, keragaman budaya dan keramah-tamahan penduduknya.

Ada femeo yang setengah bercanda mengatakan, mengapa kaum pejajah seperti Bangsa Portugis, Belanda  dan Jepang tertarik menjajah bahkan Jepang sampai betah beratus-ratus tahun menduduki Wilayah Nusatara. Jawabannya selain karena melimpahnya sumber daya alam, hal lainnya karena masyarakat Indonesia ramah dan bersahabat.

Budaya yang sudah sejak berabad-abad lalu tumbuh dan berkembang di bumi pertiwi ini mengajarkan untuk saling mengasihi di antara sesama, hormat terhadap  orang yang lebih tua, menghormati terhadap tamu yang datang.

Pendidikan diyakini akan mampu menjadi aktor perubah dalam segala bentuk sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Guru sebagai agen pendidikan harus menjadi garda terdepan  dari terlaksananya segala bentuk perubahan tadi, perubahan dari negeri yang mulai dikenal sebagai negeri yang gemar berbuat kerusuhan, harus dikenal kembali sebagai negari yang cinta damai. Internalisasi (penanaman) nilai-nilai budaya manusia generasi terdahulu kepada generasi penerus bangsa adalah merupakan suatu keharusan ditengah marakanya budaya anarkis yang mulai merasuki berbagaia elemen sendi kehidupan masyarakat indonesia.

Perlu adanya introspeksi di kalangan pendidik dalam hal pelaksanaan pembelajaran. Melalui pembelajaran kebiasaan-kebiasaan buruk bangsa indonesia tadi sedikit demi sedikit dapat dinetralisir atau dihilangkan, kemudian diharapkan bangsa Indonesia dapat dikenal kembali sebagai  bangsa yang bersahabat, dengan masyarakatnya yang ramah dan cinta damai.

Globalisasi yang melanda berbagai negara di dunia, sebagai konsekuensi dari diberlakukannya pasar bebas maupun pengaruh dari perkembangan tekhnologi dan informasi yang tidak bisa dibendung, disinyalir turut mempunyai andil terhadap mulai berubahnya nilai dan budaya  bangsa.

Melalui tayangan film, sinetron maupun internet, masyarakat indonesia dengan mudahnya dapat mengakses berbagai informasi dari semua penjuru dunia, salah satu diantarnya adalah gaya hidup, norma dan kebiasaan masyarkat yang berlaku di suatu negara.

Akibat adanya interaksi budaya tadi, masyarkat Indonesia, termasuk didalamnya peserta didik sedikit demi sedikit akan mulai terkontaminasi sehingga dengan sendirinya, secara sadar ataupun tanpa disadari tatanan nilai, norma dan budayanya akan ikut berubah.

Nilai budaya leluhur yang melekat dan berkembang selama berabad-abad, sudah terbukti eksistensinya. Sedangkan globalisasi adalah merupakan suatu hal yang tidak bisa ditolak keberadaannya. Dari permasalahan ini perlu adanya pemikiran mengenai  proteksi terhadap nilai budaya bangsa yang keberadaannya ditakutkan tergerus oleh globalisasi.

Pendidikan yang berbasis budaya, adalah solusi untuk mencegah terjadinya infiltrasi (merembesnya) budaya asing, terutama yang  tidak sesuai dengan norma dan nilai budaya bangsa.

Pembelajaran di sekolah-sekolah diyakini dapat menanamkan nilai dan budaya kepada peserta didiknya. Sekolah juga  dapat menjadikan suatu budaya tetap lestari dan dipertahankan menjadi identitas bangsa sekaligus menjadi penangkal dari merembesnya nilai dan budaya asing.

Negara lain yang sudah lebih dulu maju dalam hal penguasaan IPTEK, seperti Jepang, Korea ataupun China. Mereka berhasil menjadikan diri mereka bagian dari negara maju di muka bumi ini, karena mereka dalam mengejar kemajuan jaman, tetap berpegang teguh mempertahankan tradisi budaya mereka, jadi tidak ada alasan bagi bangsa indonesia, untuk mengejar kemajuan Ilmu pengetahuan dan tekhnologi sampai harus meninggalkan warisan budaya leluhur.

Beberapa waktu lalu pernah diperbincangkan mengenai pemikiran tentang perlunya pendidikan Budi Pekerti untuk dijadikan mata pelajaran tersendiri yang diajarkan kepada peserta didik di sekolah-sekolah di negara kita.

Penulis setuju dengan konsep pemikiran ini, namun sebelumnya perlu didahului oleh kajian dan penelitian yang mendalam. Bukankah dengan memasukan mata pelajaran baru nantinya malah membebankan dan memberatkan peserta didik. Sekarang saja kondisi peserta didik dalam menerima mata pelajaran sering dikritik oleh pakar pendidikan, karena kalau dibandingkan dengan negara lain, mata pelajaran yang diajarkan di sekolah formal untuk peserta didik di negara kita dianggap lebih banyak dibandingkan dengan pembelajaran di negara lain.

Pembelajaran mengenai sikap, norma dan nilai budaya hendaklah tidak disampaikan secara tersendiri dalam bentuk mata pelajaran terpisah dari yang sudah ada, namun akan lebih bijak apabila pembelajarannya disampaikan dengan cara diselipkan disela-sela pembelajaran, apapun mata pelajarannya.

Kewajiban menanamkan nilai dan budaya kepada peserta didik  bukan hanya tanggung jawab guru Pendidikan Agama ataupun PPKN semata, semua guru harus punya andil dalam melestarikan budaya warisan leluhur. Pembelajarnya harus disampaikan secara kontinyu dan komprehensif disampaikan oleh semua guru, dilangsungkan di sela-sela pembelajaran.

Apabila budaya milik bangsa warisan leluhur sampai punah, tergantikan budaya asing berarti akan hilang juga identitas bangsa sekaligus akan hilang juga bangsanya !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori