Anotasi Buku

h1

Book Report

Judul Buku    : Practical Program Evaluation

: Assessing and Improving Planning, Implementation, and Effectiveness

Penulis            : HUEY-TSYH CHEN

Penerbit          : Sage Publications, Inc

Tahun Terbit : 2005

Tebal Buku    : 292 halaman


An excellent first step toward a much-needed program evaluation taxonomy — one that is particularly useful for those new to evaluation, as well as for seasoned evaluators who would like to encourage understanding of the evaluation process. In this four-part, 11-chapter book,

Chen discusses the evaluation process from program planning to outcome assessment. He advocates a theorydriven evaluation approach that supports his taxonomy and provides a thorough review of the theory-driven approach.

Chen explains that many evaluation concepts are too vague or ambiguous to apply effectively to actual evaluations. He proposes an evaluation taxonomy to exemplify a holistic approach to evaluation practice. The new taxonomy supports evaluators in their attempts to understand and apply evaluation designs, data collection techniques, and use of evaluation information at a practical program level. This is no small achievement and should be an impetus for additional work in the area of evaluation taxonomy development. The taxonomy and overview of the process are excellent tools for strengthening communication between stakeholders and evaluators.

The work is replete with diagrams, examples, and definitions and would be a welcome addition to any evaluation course curriculum.

Chen states that the intended audience for this book is students who have completed an entry-level evaluation course, as well as seasoned evaluators who would like to expand their knowledge and strengthen their practicalskills.

He acknowledges that many of the terms and definitions presented are not consistent with terms readily found in the current literature, but he encourages the readers to broaden their understanding of evaluation.

For example, Chen discards the logic model in favor of his action-model and change-model approach. Although this could be an interesting challenge for seasoned evaluators, it might prove more of a burden for novice evaluators.

In the final chapters, Chen also briefly addresses some criticisms of theory-driven evaluation and challenges evaluation practitioners to think about the politics and contributions of evaluation activities.

Chen also skillfully demonstrates that stakeholder theory is a legitimate basis for theory-driven programs and needs to be explained and vetted like established theories of behavior change such as the Health Belief Model.

He reminds evaluation practitioners that program theory and the program it self belong to the stakeholders. Chen proposes that the role evaluation practitioners should play varies from one of objective observer to one of a clear partner in the development and design of the program. With these varying roles, the evaluation approach will also change. As with all the strategies and approaches he addresses,

Chen provides a thorough discussion of the positives and negatives of efficiency and effectiveness evaluation. Although the book provides an insightful discussion of evaluation in the program planning, development, and maturation stages, Chen does not discuss evaluation use or discern intended users (program stakeholders). The taxonomy presented can guide evaluation practitioners through the conceptualization and implementation of approaches and methods suited to each stage of a program’s development. However, it does not provide adequate guidance for obtaining stakeholder questions and evaluation priorities. Chen does argue for the inclusion of stakeholders throughout the evaluation process and proposes that use of the taxonomy will facilitate discussions between evaluators and stakeholders, but this will be derived from the program theory and stage of development rather than from the intended users and projected uses of the evaluation. Chen’s discussion of qualitative, quantitative, and mixed methods still helps students conceptualize potential problems and learn how to address them as they read about the abundance of evaluation approaches available.

The book is a welcome addition to the expanding literature on evaluation, because it provides an overall conceptualization of the evaluation process from program design to implementation. Although the book is somewhat limited by its lack of discussion about how evaluation results are used, this breakthrough in conceptualization will surely encourage more work in the area.

Sebuah terobosan baru yang sangat baik terhadap sebuah taksonomi yang sangat dibutuhkan dalam program evaluasi, salah satu yang sangat berguna bagi mereka yang baru berkenalan dengan evaluasi, serta untuk evaluator berpengalaman yang ingin mendorong pemahaman proses evaluasi. Dibagi dalam empat Bagian, 11 bab buku.

Chen membahas proses evaluasi dari program perencanaan untuk penilaian hasil. Dia menganjurkan pendekatan evaluasi theorydriven yang mendukung penggolongan / taksonomi dan memberikan tinjauan menyeluruh dari pendekatan teori-driven.

Chen menjelaskan bahwa konsep evaluasi menyangkut banyak orang yang terlalu jelas atau ambigu untuk menerapkan secara efektif untuk evaluasi yang sebenarnya. Ia mengusulkan suatu penggolongan / taksonomi evaluasi untuk contoh pendekatan holistik untuk berlatih evaluasi. Taksonomi baru mendukung evaluator dalam upaya mereka untuk memahami dan menerapkan desain evaluasi, teknik pengumpulan data, dan penggunaan informasi evaluasi pada tingkat program praktis. Ini bukan prestasi kecil dan harus menjadi dorongan untuk pekerjaan tambahan di bidang evaluasi pengembangan taksonomi. Taksonomi dan gambaran proses ini adalah alat yang sangat baik untuk memperkuat komunikasi antara stakeholder dan evaluator.

Karya ini penuh dengan diagram, contoh-contoh, dan definisi dan akan menjadi tambahan menyambut baik semua program evaluasi kurikulum.

Chen menyatakan bahwa pembaca buku ini adalah siswa yang telah menyelesaikan kursus evaluasi entry-level, serta evaluator berpengalaman yang ingin memperluas pengetahuan dan memperkuat practicalskills mereka.

Dia mengakui bahwa banyak istilah dan definisi yang disajikan tidak konsisten dengan persyaratan mudah ditemukan dalam literatur saat ini, tetapi ia mendorong para pembaca untuk memperluas pemahaman mereka tentang evaluasi.

Misalnya, Chen membuang model logika yang mendukung tindakan-model dan pendekatan perubahan-model. Meskipun ini bisa menjadi sebuah tantangan yang menarik bagi evaluator berpengalaman, mungkin terbukti lebih dari sebuah beban bagi evaluator pemula.

Dalam bab-bab akhir, Chen juga sempat alamat beberapa kritik terhadap teori-didorong evaluasi dan praktisi tantangan evaluasi untuk berpikir tentang politik dan kontribusi dari evaluasi kegiatan.

Chen juga terampil menunjukkan bahwa teori stakeholder adalah dasar yang sah untuk program teori-driven dan perlu dijelaskan dan diperiksa seperti teori-teori perubahan perilaku dibentuk seperti Model Kepercayaan Kesehatan.

Dia mengingatkan praktisi evaluasi bahwa program teori dan program itu sendiri milik para pemangku kepentingan. Chen mengusulkan bahwa peran praktisi evaluasi harus bermain bervariasi dari salah satu pengamat bertujuan untuk salah satu pasangan yang jelas dalam pengembangan dan desain program. Dengan peran yang berbeda-beda, pendekatan evaluasi juga akan berubah. Seperti halnya dengan semua strategi dan pendekatan dia alamat,

Chen memberikan kupasan yang menyeluruh dari sisi positif dan negatif dari efisiensi dan efektivitas evaluasi. Meskipun buku ini memberikan pembahasan evaluasi dalam perencanaan program, pengembangan, dan tahap pematangan, Chen tidak membahas menggunakan evaluasi atau melihat pengguna dimaksudkan (stakeholder program). Taksonomi disajikan dapat membimbing praktisi evaluasi melalui konseptualisasi dan penerapan pendekatan dan metode yang cocok untuk setiap tahap perkembangan program. Namun, ia tidak memberikan petunjuk yang cukup untuk mendapatkan pertanyaan stakeholder dan prioritas evaluasi. Chen tidak berdebat untuk penyertaan pemangku kepentingan selama proses evaluasi dan mengusulkan bahwa penggunaan taksonomi akan memfasilitasi diskusi antara evaluator dan stakeholder, tetapi ini akan berasal dari teori program dan tahap pembangunan bukan dari pengguna ditujukan dan diproyeksikan penggunaan evaluasi.

Chen berbicara masalah metode kualitatif, kuantitatif, dan gabungannya yang membantu siswa untuk meng-konsep potensi masalah dan belajar bagaimana menangani masalahnya, saat mereka membaca tentang kelimpahan pendekatan evaluasi yang tersedia.

Buku ini adalah tambahan menyambut literatur memperluas evaluasi, karena menyediakan konseptualisasi keseluruhan proses evaluasi dari desain program sampai implementasi. Meskipun buku ini agak dibatasi oleh kurangnya bahasan tentang bagaimana hasil evaluasi digunakan, ini terobosan dalam konseptualisasi pasti akan mendorong lebih banyak menjadi solusi untuk program evaluasi dan permasalahannya.

Judul Buku : PARADIGMA BARU DALAM PENDIDIKAN NASIONAL

Penulis            : Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, MSc. Ed.

Penerbit          : RINEKA CIPTA

Tebal Buku    : 240 Halaman

Buku ini terdiri dari 14 bab dan 5 bagian

Dalam Bab I membahas tentang krisis masyarakat merupakan refleksi krisis pendidikan, kita dilanda oleh krisis politik, krisis ekonomi, krisis hukum, krisis kebudayaan, dan tidak dapat disangkal juga di dalam bidang pendidikan.  Pendidikan sebagai Indoktrinasi  dan menolak segala unsur  budaya yang datangnya dari luar. Hubungan erat pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang saling berkaitan, tidak ada kebudayaan tanpa pendidikan dan begitu pula tidak ada praksis pendidikan di dalam vacum tetapi selalu berada di dalam lingkup kebudayaan yang kongkret. Tatanan sosial vs kebebasan individu,  di dalam kaitan ini semakin tinggi pendidikan para anggotan besar pula kesempatan berkembangnya otonomi individu.  Kualitas pendidikan bukan hanya pendidikan yang mengembangkan inteligensi akademik tetapi semakin perlu mengembangkan seluruh spektrum inteligensi manusia yang meliputi berbagai aspek kebudayaan. Mutu guru sebagai kunci peningkatan kualitas. Reformasi pendidikan perlu komitmen politik, dimasa lalu komitmen politik hanya sebagai basa-basi atau ungkapan yang kosong dan tidak diwujudkan di dalam rentet kehidupan bersama.

Pada Bab II berisi: Budaya KKN lahir dari budaya sentralistik karena tidak mempunyai kontrol masyarakat luas. Filsuf pendidikan seperti John Dewey melihat politik adalah pendidikan dan pendidikan adalah politik. John Dewey mengatakan bahwa pendidikan adalah metode yang paling fundamental di dalam kemajuan sosial dan reformasi. Masalah-masalah kritis pendidikan dalam membangun masyarakat Indonesia baru antara lain:

  1. Pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai demokrasi
  2. Pengembangan hak asasi manusia
  3. Pembrantasan kemiskinan
  4. Pelaksanaan otonomi daerah dalam bidang pendidikan dan kebudayaan

Di dalam Bab III berisi : Krisis kebudayaan merupakan refleksi krisis pendidikan berkelanjutan. Pendidikan sebagai proses Hominisasi dan proses Humanisasi  seseorang, berlangsung dalam lingkungan kehidupan keluarga dan masyarakat yang berbudaya, kini dan masa depan. Pedagogik pembebasan sebagai pedagogik pemberdayaan. Pemberdayaan tersebut haruslah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat sehingga lingkungan mengkondisikan terbentuknya sikap yang produktif dari anak didik.

Di dalam Bab IV berisi tentang bahaya-bahaya proliferasi pendidikan : formalisme supply oriented. Proliferasi pendidikan menjadikan pendidikan formal sifatnya sangat formalistis dan sistematis, lama-kelamaan telah  mengalihkan fungsi pendidikan formal dan kebutuhan hidup kepada tuntutan popularisasi pendidikan.

Dalam Bab V berisi: Ada kemungkinan desentralisasi pendidikan justru dapat menimbulkan jurang yang semakinlebar antara si kaya dan si miskin.Pendidikan tidak mungkin terlepas dari budaya karena kebudayaan memberikan rambu-rambu dan memberikan reward punishment dalam perkembangan pribadi. Perlunya reformasi Badan Akreditasi Nasional.

Dalam Bab VI berisi :  Salah satu pelaksanaan dari Undang-undang Otonomi daerah ialah di dalam pendidikan dan kebudayaan. Penyelenggaraan pendidikan dan kebudayaan yang akan menjadi tugas dan wewenang daerah di dalam pelaksanaannya memerlukan persiapan-persiapan baik di dalam penyusunan rencananya, program, dan penyidaan sumber daya.

Dalam Bab VII berisi : Perlunya paradigma baru. Memasuki melinium ketiga yang penuh dengan persaingan, keadaan pendidikan tinggi yang demikian tentunya perlu dengan segera diubah dan ditingkatkan mutunya. Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi kita memasuki milenium ketiga adalah merajut kerja sama atau networking, baik dengan pendidikan di dalam maupun luar negri, juga dengan lembaga penelitian terbaik.

Dalam Bab VIII berisi : Suatu pemikiran mengenai akar permasalahan dari gejala keranjingan masyarakat untuk memperoleh gelar disamping niat baik dari masyarakat untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang justru sangat dibutuhkan di dalam era informasi dan kehidupan global.

Dalam Bab IX berisi: Kualitas pendidikan tinggi di Indonesia terendah mutunya di Asia. Kurikulum pendidikan tinggi kita mestinya terus-menerus dereformasi agar dapat mengikuti perubahan-perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat, serta perubahan-perubahan kehidupan seperti demokrasi, pengakuan terhadap hak asasi menusia, kerja sama dan persaingan global.

Dalam Bab X  berisi: Pendidikan islam tersingkir dari mainstream pendidikan nasional. Abad 21 agama dan intelek akan bersinkronisasi. Arti pesantren dalam pengembangan budaya, pendidikan pesantren akan survive dan menjadi pendidikan alternatif dari masyarakat Indonesia apabila dia peka terhadap gelombanga peradaban tersebut.

Dalam Bab XI berisi: Kurikulum Nasional menginvasi Madrasah. Dengan adanya suatu keinginan untuk menyetarakan pendidikan madrasah dengan sekolah-sekolah negeri, maka kurikulum madrasah diarahkan kepada kurikulum nasional uang diselenggarakan untuk sekolah-sekolah pemerintah seperti kurikulum 1994. Dengan kata lain, terjadi arus sentralisasi kurikulum.

Dalam Bab XII berisi: Ada empat prinsip yang dapat dijadikan pegangan di dalam pengembangan pendidikan kristen menghadapi masa depan:

  1. Keterbukaan
  2. Peningkatan kualitas
  3. Otonomi kelembagaan
  4. Merajut jaringan kerja sama

Dalam Bab XIII berisi : Intelektualisme akan merontokkan kebudayaan. Inteligensi yang berdimensi  banyak. Menurut Howard Gardner, inteligensi sebenarnaya sangat beragam dan dapat dikategorikan atas tujuh jenis yaitu inteligensi musik, inteligensi kinestik, inteligensi logis matematis, inteligensi linguistik, inteligensi spatsial, inteligensi interporsenal, dan inteligensi intrapersonal.

Dalam Bab XIV berisi: Peran kebudayaan dalam perkembangan ekonomi. Manusia terdidik dan berbudaya. Riset dalam kebudayaan bukan hanya  bidang teknologi dan ilmu pengetahuan tetapi juga di dalam kebudayaan di dalam arti yang luas

Dalm memasuki millennium ketiga ini mempunyai pengharapan akan masa depan kehidupan manusia. Dengan adanya reformasi, masyarakat dan bangsa Indonesia bertekad membangun Indonesia yang demokratis. Masyarakat Indonesia baru yang di cita-citakan akan dibangun oleh manusia Indonesia sendiri terutama generasi muda sekarang. OLeh karena itu pendidikan nasional memegang peranan strategis dalam usaha membangun masyarakat Indonesia yang kuat dalam usaha membangun masyarakat Indonesia yang kuat dan bersatu dalam kenyataannya yang bhineka. Reformasi dalam bidang pendidikan ini sangat penting mengingat kita tidak rela menghadapi kenyataan bahwa generasi muda kita menjadi “the lost generation”. Keputusan-keputusan yang tidak konseptual mengenai pendidikan nasional akan sangat fatal bagi terwujudnya cita-cita reformasi yakni membangun masyarakat Indonesia baru yang demokratis, damai dan keadilan, dan sejahterah. Reformasi pendidikan nasioanl tidak dapat menunggu lebih lama lagi, ia harus dibersihkan dari unsur-unsur politik agar dapat di tangani lebih professional dan sesegera mungkin, agar tidak berakibat pada disintegrasi masyarakat dan dapat berdaya saing di dunia global.

Judul Buku    : MANUSIA DAN PENDIDIKAN

Suatu Analisa Psikologis, Filsafat dan Pendidikan

Penulis            : Prof.Dr.Hasan Langgulung

Penerbit          : Pustaka Alhusna Baru

Tebal buku    : 366 halaman Tahun Terbit 2005

Tebal Buku    : 292 halaman

BAGIAN KESATU

FALSAFAH PENDIDIKAN ISLAM

Falsafah hidup Islam mencakup kebenaran(truths) yang bersifat spekulatif dan praktikal yang dapat menolong untuk menafsirkan tentang manusia, sifat-sifatnya, nasib kesuudahannya, dan keseluruhan hakikat (reality). Ia didasarkan di atas prinsip-prinsip awal atau tertinggi, dan tidak berubah yang mnemiliki norma-norma yang tidak akan tertaklukan pada kesalahan bagi tingkah laku individu dan masyarakat. Dari pandangan seseorang terhadap manusia dan dunia, malah keseluruhan realitas, muncullah falsafah hidup, yang juga berarti falsafah pendidikan. Falsafah pendidikan Islam menentukan tujuan akhir, maksud, objektif, nilai-nilai dan cita-cita yang telah ditentukan lebih dahulu oleh falsafah hidup Islam dan dilaksanakan oleh proses pendidikan. Falsafah Islam meletakkan prinsip-prinsip, norma-norma yang menguasai keseluruhan skop pendidikan.

BAGIAN KEDUA

KURIKULUM

Kurikulum adalah  sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murid di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan. Dari definisi di atas dapat kita simpulkan bahwa kurikulum itu mempunyai empat unsur atau aspek uatama yaitu :

  1. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu. Dengan lebih tegas lagi orang yang bagaimana ingin kita bentuk melalui kurikulum?
  2. Pengetahuan(knowledge), informasi, data-data aktivitas-aktivitas dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu. Bagian inilah yang biasa disebut mata pelajaran. Bagaian ini pulalah yang dimaksudkan dalam silabus.
  3. Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guru-guru untuk mengajar dan mendorong murid-murid belajar dan membawa ke arah yang dikehendaki oleh kurikulum.
  4. Metode dan cara penilaian yang diperguanakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan dalam kurikulum seperti ujian triwulan, ujian akhir, dan lain-lain.

Berbicara tentang tujuan-tujuan pendidikan sudah bermacam-macam mazhab falsafah pendidikan yang kita harus pahami. Ada mazhab rasionalisme yang berpangkal pada plato, Aristoteles, Descrates, kant dan lain-lain. Ada mazhab impirisima yang dipelopori olejh John Lock yang terkenal dengan kertas putih (tabula rasa). Ada mazhab progressivisma yang dipelopori oleh John Dewey yang berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah lebih banyak pendidikan. Ada mazhab yang berasal dari sosiologi yaiitu sosiologi pengetahuan yang menitikberatkan budaya. Selanjutnya ada mazhab fenomenologi atau eksistensialisma yang beranggapan bahwa pendidikan seharusnya bersifat personal oleh sebab itu sekolah tidak ada gunanya dan harus dibubarkan.

BAGIAN KETIGA

MASALAH PSIKO-SOSIAL

Pendidikan, baik sebagai proses pengembangan potensi-potensi individu menuju kepada kebahagiaan masyarakat, ataupun sebagai pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda, telah diakui sebagai satu-satunya jawaban terhadap masalah kemunduran sesuatu bangsa. Dengan kata lain, sesuatu bangsa atau masayarakat yang masih berada dalam tahap terbelakang dibandingkan dengan masyarakat dan bangsa-bangsa lain, hanya dapat menghilangkan keterbelakangan itu melalui pendidikan.

Pendidikan bukan hanya berarti pewarisan nilai-nilai budaya berupa keceerdasan dan keterampilan dari generasi tua kepada generasi muda, tetapi juga berarti pengenbangan potensi-potensi individu untuk kegunaan individu itu sendiri dan selanjutnya untuk kebahagiaan masyarakat. Sebab penemuan-penemuan ilmiah dan ciptaan-ciptaan baru dalam teknologi bermula dari individu. Tanpa individu yang kreatif, masyarakat tidak ubahnya seperti beras dalam karung, banyak tetapi tidak dapat berbuat apa-apa.

Para filosof tidak pernah sependapat tentang potensi apa yang perlu dikembangkan oleh manusia. Melalui pendekatan historis, Hasan Langgulung menjelaskan bahwa di Yunani Kuno satu-satunya potensi manusia yang harus dikembangkan di kerajaan Sparta adalah potensi jasmaninya, tetapi sebaliknya di kerajaan Athena yang dipentingkan adalah kecerdasan otaknya.

Hasan Langgulung melihat potensi yang ada pada manusia sangat penting sebagai karunia yang diberikan Allah untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Suatu kedudukan yang istimewa di dalam alam semesta ini. Manusia tidak akan mampu menjalankan amanahnya sebagai seorang khalifah, tidak akan mampu mengemban tanggung jawabnya jikalau ia tidak dilengkapi dengan potensipotensi tersebut dan mengembangkannya sebagai sebuah kekuatan dan nilai lebih manusia dibandingkan makhluk lainnya.57 Artinya, jika kualitas SDM manusianya berkualitas maka ia dapat mempertanggungjawabkan amanahnya sebagai seorang khalifah dengan baik. Kualitas SDM ini tentu saja tak hanya cukup dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), tetapi juga pengembangan nila-nilai rohani-spiritual, yaitu berupa iman dan taqwa (imtaq). Dari penjabaran di atas dapat dimengerti bahwa pengembangan SDM sangat penting, tak hanya dari sudut ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, tak kalah pentingnya adalah dimensi spiritual dalam pengembangan SDM. Kualitas SDM tidak akan sempurna tanpa ketangguhan mental-spiritual keagamaan. Sumber daya manusia yang mempunyai dan memegang nilai-nilai agama akan lebih tangguh secara rohaniah. Dengan demikian akan lebih mempunyai tanggung jawab spiritual terhadap ilmu pengetahuan serta teknologi. Sumber daya manusia yang tidak disertai dengan kesetiaan kepada nilai-nilai keagamaan, hanya akan membawa manusia ke arah pengejaran kenikmatan duniawi atau hedonisme belaka.

Dan jika semangat hedonisme sudah menguasai manusia, bisa diramalkan yang terjadi adalah eksploitasi alam sebesar-besarnya tanpa rasa tanggung jawab dan bahkan penindasan manusia terhadap manusia lain.

“Bahwa falsafah pendidikan Islam menentukan tujuan akhir, maksud, objektif, nilai-nilai dan ccita-cita yang telah ditentukan lebih dahulu oleh falsafah hidup Islam dan dilaksanakan oleh proses pendidikan. Falsafah Islam meletakkan prinsip-prinsip, norma-norma yang menguasai keseluruhan skop pendidikan.”

Pendapat Langgulung ini sangatlah substantif, dia berkeinginan pendidikan Islam menjadi media transformasi manusia untuk mengerti apa hakikat dari ajaran Islam itu sendiri. Dengan kata lain sebuah pendidikan yang tidak mengarahkan manusianya pada terbentuknya karakter manusia yang bertaqwa berarti tidak layak dilabeli sebagai pendidikan Islam.

Sama halnya dengan apa yang dikehendaki Hidayatullah melalui manhaj Sistematika Nuzul Wahyu-nya. Dimana pendidikan harus mengarahkan manusia pada yang memiliki mental mujahid dan mujaddid. Sebab jika ini tidak menjadi orientasi dasar pendidikan yang ada maka pendidikan Islam akan kehilangan peran dan fungsinya.

Kalangan liberal akan melihat pendapat Langgulung bersifat tendensius. Karena menjadikan tujuan dan norma agama sebagai basis dari falsafah pendidikan Islam. Namun logika yang sama juga bisa diterapkan, karena ketika kritik kaum liberal itu diarahkan kepada pihaknya maka sejatinya mereka sedang mengajak umat Islam untuk mengingkari keyakinannya.

Judul     : METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF :

Pardigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya

Penulis       :         DR.DEDDY MULYANA,MA.

Penerbit    :          ROSDA KARYA

Tebal buku   :     302 Halaman

Buku ini terdiri dari empat Bab:

Bab I Perspektif dan ilmu teori sosial dimana dijelaskan keanekaragaman dalam perspektif ilmu islam serta dijelakan juga tentang teori dan bagaimana dalam menjalankan metode penelitian sehingga terjadi perspektif dan mengandung realitas disini juga dilakukan dengan cara pndekatan obyektif dan pendekatan subyektif. Perspektif ilmi yang disampaikan oleh glen, serta perspektif humanity Marty. Di dalam buku  ini di bicarakan rentang pendekatan obyektif dan pendekatan subyektif serta Justifikasi atas perspektif Interaksi simbolik.

Bab II Menceritakan Teori Interaksi Simbolik didalam bab ini juga diceritakan dan disinggung tentang teori MAX Weber yang sebagai payung yang melandasi teori interaksi simbolik sehingga terbentuklah akar yang kokoh dalam menghasilkan teori interaksi simbolik, banyak para pakar setuju bahwa pemikirann George Herbet Mead, sebagai tokoh sentaral teori ini berlandaskan berbrapa cabang filsafat diantaranya Pragmatisme dan Behaviorisme, meskipun pandangan interaksi simbolik sangat berbeda dengan behaviorisme, pandangan mead dipengaruhi oleh paham tersebut. Didalam bab ini juga menyatakan tentang “diri” dari George Herbert Mead serta beliau menyatakan pentingnya simbol dan komunikasi dalam proses interaksi sosial. Dalam interaksi mereka, manusia menafsirkan tindakan verbal dan non verbal dan kemampuan menemukan makna ini dan menunjukkannya kepada orang lain dan kepada organisme adalah suatu kemampuan yang memberikan kekuatan unik pada manusia kendali ini dimungkinkan oleh bahasa. Mekanisme kendali atas makna dalam arti inilah yang merupakan, menurut saya, apa yang kita sebut pikiran, serta prkembagan diri sejalan dengan pemikiran invidu sosial masyarakat yang dalam hal ini terdiri dalam 2 tahap antara lain : tahap permainan dan tahap pertandingan. Disini juga digambarkan beberapa kritik atas teori interaksi simbolik karena sebagian besar pakar berpendapat bahwa teori interaksi adalah teori yang terlau agung ( grand) konsep-konsepnya longgar, samar dan membinggungkan, seperti pikiran, diri, aku dan daku sehingga tidak dapat memberi basis bagi teori dan penelitian.

Bab. III Menceritakan Tentang Pendekatan Drama turgis Erving Goffman

Disini lebih diperjelas lagi tentang teori diri menurut Goffman: dalam bentuk presentasi diri. Dalam menekspresikan diri manusia dilakukan dengan dua hal baik secara panggung didepan dan panggung dibelakang. Fokus dari Goffman sebenarnya bukan hanya individu, tetapi juga kelompok atau apa yang disebut tim. Selain membawakan peran dan karakter secara individu, aktor- aktor sosial juga berusaha mengelolah kesan orang lain terhadap kelompoknya, baik itu keluarga, tempat kerja, partai politik, atau organisasi lainnya yang mewakili. Unsur penting lain terdapat dalam perspektif Goffman adalah pandangan bahwa interaksi mirip dengan upacara keagamaan yang sarat dengan berbagai ritual. Bagi Goffman, aspek-aspek ”remeh” dalam perilaku yang sering luput dari perhatian orang merupakan bukti-bukti penting, seperti kontak mata antara orang-orang yang saling tidak mengenal ditempat umum.

Ada beberapa kritik tentang tulisan-tulisan Goffman, bahwa beliau lebih mampu membujuk pembaca daripada membuktikan suatu pokok persoalan.

Bab IV. Metode Penelitian Kualitatif

Dalam bab ini dibahas tentang Metodologi interaksionis simbolik yang berasumsi bahwa penelitian sistematik harus dilakukan dalam lingkungan yang alamiah alih-alih lingkungan yang artifisial seperti eksprimen. Kritik Blumer atas analisis Variabel menurut Herbert Blumer, kaum interaksionis harus meneliti apa yang berlangsung ”dalam kepala” manusia. Dalam proses Induktif, maka dalam penelitian kualitatif bahasa dan makna yang dianut subyek penelitian, menjadi sangat penting sebagai derivasi dari konsepsi kita mengenai dunia fisik dan sifat sistem logis dan matematis.

Penelitian Naturalistik dan etnografi, penelitian kualitatif juga dipertukarkan dengan penelitian naturalistik, juga dengan etnografi dalam antropologi kognitif yang berusaha memahami bagaimana orang-orang mempersepsi dunia dengan menelaah bagaimana mereka berkomunikasi.

Penelitian naturalistik, Beberapa penulis lain mengindentikkan penelitian naturalistik dengan pnelitian fenomenologis. Peneliti naturalistik memasuki arena penelitian yang diminatinya untuk menafsirkan fenomena yang ditemuinya, tidak memanipulasi dan mengontrolnya, dan berusaha mencampurinya sesedikit mungkin. Penelitian  etnografi sebenarnya juga memanfaatkan beberapa teknik pengumpulan data, meskipun trknik utamanya adalah pengamatan berperan serta. Pengamatan berperan-serta meliputi wawancara yang mendalam dimana bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi  dari seseorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu. Di bagian bab ini juga dibicarakan tentang menganalisis dokumen dan  studi kasus.

Judul : Filsafat Ilmu

Penulis : Ismaun

Tahun Terbit  : 2001

Penerbit : PT. Media Iptek

Tebal Buku:

Memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu I, yang disusun oleh Ismaun (2001)

  1. Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap pendapat-pendapat lampau telah dibuktikan atau dalam kerangka kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.
  2. Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan)
  3. A.Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.)
  4. Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)
  5. May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu.
  6. Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan
  7. Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).

Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :

  1. Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)
  2. Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
  1. Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis).

B. Fungsi Filsafat Ilmu

Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu : sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana.

C. Substansi Filsafat Ilmu

Telaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi

1. Fakta atau kenyataan

Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya.

  • Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya.
  • Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai.
  • Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan
  • Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif.
  • Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.

2. Kebenaran (truth)

Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001)

a. Kebenaran koherensi

Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental.

b. Kebenaran korespondensi

Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik

c. Kebenaran performatif

Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan.

d. Kebenaran pragmatik

Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis.

e. Kebenaran proposisi

Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisi-proposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan persyaratan formal suatu proposisi. Pendapat lain yaitu dari Euclides, bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya, melainkan dilihat dari benar materialnya.

f. Kebenaran struktural paradigmatik

Sesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran korespondensi. Sampai sekarang analisis regresi, analisis faktor, dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai, karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh.

3. Konfirmasi

Fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang, atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi, postulat, atau axioma yang sudah dipastikan benar. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. Sedangkan untuk membuat penjelasan, prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif, deduktif, ataupun reflektif.

4. Logika inferensi

Logika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logika matematika, yang menguasai positivisme. Positivistik menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. Belief pada Russel memang memuat moral, tapi masih bersifat spesifik, belum ada skema moral yang jelas, tidak general sehingga inferensi penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik.

Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional, koheren antara fakta dengan skema rasio, Fenomena Bogdan dan Guba menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural paradigmatik moral transensden. (Ismaun,200:9)

D. Corak dan Ragam Filsafat Ilmu

Ismaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu, diantaranya:

  1. Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam, yaitu : (1) meta ideologi, (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu.
  2. Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends, melainkan sebagai kepanjangan ide manusia.
  3. Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit, yakni kebudayaan, produk domain kognitif dan produk alasan praktis.

Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata, benar, dan logis. Bila etik dimasukkan, maka perlu ditambah koheren dengan moral. Produk alasan praktis tampil memenuhi kriteria oprasional, efisien dan produktif. Bila etik dimasukkan perlu ditambah human.manusiawi, tidak mengeksploitasi orang lain, atau lebih diekstensikan lagi menjadi tidak merusak lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s